Tentang Jalan Salib Mahawu | |
 Simon dari Kirene
   Tomohon | Mahawu Trekking | JSSM Pembinaan atau pelatihan yang berkaitan dengan team building, pengembangan kepribadian dll tidak harus dilaksanakan di ruang kelas atau meeting room. Kini, pelatihan-pelatihan dalam rangka mengembangkan hidup secara holistik banyak dilakukan di luar kelas atau sering disebut dengan outbound training. Pilihan pembelajaran soal kehidupan yang dilakukan secara "outdoor" rupanya disukai oleh corporate, sekolah bahkan orang muda, dll. Alasannya, outbound training dalam prateknya tidak membosankan melainkan menantang baik secara pribadi maupun team work. Karena itu, banyak ajakan di tawarkan ke publik untuk melakukan kegiatan outbound sebagai sarana "Sekolah Alam", yaitu belajar memahami dan mengenali lebih mendalam tentang kearifan alam. Mahawu Adventure Park memfasilitasi siapa saja baik secara individu maupun kelompok untuk mengadakan "outbound training". Bahkan, jika diminta, team MAP siap melayani juga inbound traning yang dikemas dengan model "api unggun". Untuk outbound training, MAP memiliki fasilitas-fasilitas siap pakai seperti High-ropes, Flying Fox, SpiderWeb, Games Outbound, Juggle Trekking dan Mahawu Trekking. Apabila ada yang mengambil paket menginap MAP siap menawarkan tempat penginapan di Alamanda retreat. Penginapan di kaki Gunung dengan aura hutan pegunungan yang sejuk dan natural. Selama ini, MAP telah dipakai oleh Sekolah SMA St. Nikolaus Tomohon untuk kegiatan "leadership" kelas X dan "Character Building" untuk kelas XII. Dari perusahaan juga pernah dilayani yaitu dari Askes Manado. Biasanya, paket yang diambil adalah juggle trekking, outbound games and fun serta permainan yang menantang seperti highropes dan flying fox. Anda tertarik? Atau sekolah anda membutuhkan outbound training? Silahkan datang ke Mahawu Adventure Park di Tomohon, Sulawesi Utara. Tahun 2009 ini, JSSM sebagai salah satu tempat berdoa, berziarah serta pembinaan, ingin meningkatkan pelayannya semaksimal. Sedapat mungkin kebutuhan religiositas umat, baik yang dikemas dalam bentuk wisata rohani, pembinaan kaderisasi, retret, ibadah padang, atau paket-paket wedding terpenuhi dengan menggunakan fasilitas-faslitas yang disediakan di JSSM.
Fasilitas-fasilitas yang sekarang ini telah tersedia di kompleks JSSM, mulai dari jalan masuk sampai jalan keluar: (1) Kantor JSSM : berada di pintu masuk Jalan Salib. Jika anda akan booking penggunaan fasilitas di JSSM bisa mendafarkan diri atau kelompoknya di kantor JSSM, Kantor ini juga berfungsi sebagai Pusat Informasi JSSM.
(2) Warung JSSM : minishop ini menyediakan barang-barang rohani seperti buku doa, rosario dll. Di warung ini juga disediak makanan dan minuman.
(3) "Via Dolorosa" : jalan salib di JSSM sangat unik. Keunikannya terletak pada pada jalan salib yang berbentuk diorama setinggi manusia dan patung-patungnya diletakkan di tengah jalan sebagai bentuk devosi yang bersifat "mengikuti Yesus".
(4) "Taman Pieta" : dalam taman ini Bunda Maria memangku jenasah Putra-Nya dengan penuh ketulusan dan kemurnian hati. Bentuk taman ini seperti tangan yang menggegam sebagai tanda "kesatuan erat" antara anak dan ibu.
(5) "Makam Yesus" ; Makam Yesus dibuat seperti terowongan. Di dalamnya ada ruang kosong yang di tengahnya ada lubang bulat. Kalau siang sinar matahari menembus ke ruangan itu melalui lubang ini. Kenapa makam kosong, karena Yesus telah bangkit.
(6) "Gua Maria" : Bentuk guanya sangat alami. Berdinding batu dan dialiri air dari sumber air yang tidak pernah mengering. Ini mengingatkan kita bahwa dengan perataraan Bunda Maria rahmatnya tidak pernah habis bagi para peziarah yang berdoa di hadapan Bunda Maria. Di depan Gua Maria ada ruang luas dan sering dipakai untuk Ekaristi.
(7) "Ampiteater": bentuknya seperti Coloseum di jaman romawi. Di tengah-tengah Ampiteater biasa digunakan untuk misa, ibadah padang atau untuk pentas kesenian. Sementara penonton duduk setengah melingkar bertrap-trap. Ampiteater ini bisa menampung 1000 orang.
(8) "Kapel" : Chapel ini sangat istimewa dari sudut arsitekturnya. Bentuknya seperti kapal Nabi Nuh yang telungkup. View dari kapel sangat eksotik karena bisa melihat Gunung Lokon, kota Tomohon. Kapel ini dapat digunakan sebagai "Wedding Chapel" karena keindahan arsitekturnya.
(9) "Alamanda Retreat" : tempat penginapan ini di setting menyatu dengan alam. Sering dipakai untuk retreat, rekoleksi, meeting dan kegiatan rohani lainnya. Kicauan burung dan kesejukan alam pegunungan membuat betah bagi para pengguna tempat ini.
(10) "Mahawu Adventure Park" : salah satu pendukung untuk mereka yang mengadakan pembinaan atau retreat adalah MAP ini. Di sini tersedia flying fox, high ropes, dan permainan outbound lainnya. Fasilitas ini baru dibuka bulan Januari 2009. Lokasinya agak jauh dari Almanda Retreat sehingga tidak akan menggangu aktivitas di Alamanda Retreat.
(11) "Mahawu Trekking" : sarana untuk pelengkap outbound untuk keperluan jungle trekking. Trekking ini bisa diperpanjang menuju ke puncak Gunung Mahawu.
(12) "Foto pre Wedding" dan "Video Klip": keindahan alam di JSSM ternyata mempesona calon penganten yang akan menikah. Mereka bersedia datang untuk paket pre-wedding di sudut-sudut indah di JSSM. Selain itu, "video klip" lagu-lagu rohani sering dibuat di JSSM.
Masih ada peluang untuk pengembangan JSSM pada tahun ini. Antara lain, paket lengkap untuk tour and ziarah bagi para tamu dari luarnegeri, jawa untuk sightseeing ke minahasa atau bunaken. Paket ini dimanfaatkan oleh tamu-tamu dari Singapore.
Jika ada yang berminat, silahkan hubungi di nomer telpon 0431 3358833. Atau emai ke ziarahmahawu@yahoo.com. (tn)
Hampir subuh, pesawat Garuda yang membawa rombongan keluarga Pak Thomas, Jakarta & Swiss, mendarat di bandara Sam Ratulangi, Manado dengan mulus. Kedatangan mereka rupanya sudah dinantikan oleh pihak hotel di mana mereka menginap. Rupanya terjadi "ketidaknyamanan" sesaat ketika "transfer in" berlangsung. Rupanya tamu yang dijemput banyak namun hanya tersedia satu unit kendaraan. Meski demikian rombongan akhirnya bisa check-in di hotel yang berlokasi di pinggir pantai.
Sesampainya di hotel keluarga ini beradaptasi dengan ruang, suasana dan lingkungan yang ada di hotel dengan baik. Esok paginya, mereka "booking" paket ke Bunaken dengan menggunakan kapal dari pihak hotel. Terjadi sedikit keterlamabatan dalam hal keberangkatan menuju ke Bunaken dari waktu yang dijanjikan.
Cuaca yang cerah dan cenderung panas tidak menghalangi mereka untuk "snorkeling" di taman laut Bunaken yang terkenal indahnya. Decak kagum pada indahnya taman laut membekas di hati mereka secara mendalam. Belum pesonanya senantiasa direkam oleh pijarnya foto digital yang mereka bawa.
Menjelang matahari terbenam mereka "check out" dan melanjutkan ziarah dan tournya ke arah kota Tomohon. Sebelum kaki melangkah lebih jauh mereka terlebih dahulu "check in" di penginapan "Wisma YPL" yang berada di kaki Gunung Lokon. Kesejukan alamnya menghantarkan ke tempat perpaduan mereka dengan rasa segar dan bersih.
Pagi harinya mereka langsung menuju ke JSSM, tempat ziarah dan doa yang berlokasi di kaki gunung Mahawu. Sesampainya di lokasi, mereka mengisi buku tamu dan memberi dana partisipasi untuk membantu biaya maintenance. Karena di dekat pintu masuk juga ada 'minishop rohani" maka rombongan mampir dulu untuk membeli lilin dan buku doa jalan salib.
Sementara mempersiapkan diri untuk berdoa di jalan salib, tampak rombongan peziarah lainnya mulai berdatangan untuk berdoa di bulan Maria Oktober ini. Doa Jalan Salib di mulai dari stasi pertama. Guide tour memimpin doa jalan salib hingga stasi terakhir. Tampak keringat membasahi wajah mereka saat menapak stasi ke 9. Namun hal itu tidak menghalangi mereka untuk berdoa.
Doa Jalan Salib sudah dilaksanakan dengan baik bersamaan dengan banyaknya peziarah yang lain. Setelah itu, menuju ke Goa Maria "Sanctissima" Mahawu untuk mohon doa di hadapan Bunda Maria. Sebelum berdoa Keluarga pak Thomas memasang lilin dan berdoa.
Perziarahan dilanjutkan menuju ke amphiteater, kapel dan alamanda retreat. Setelah melihat-lihat kompleks JSSM yang sekaligus akan dijadikan kebun raya (botanical garden), kel. Pak Thomas melanjutkan tournya ke Danau Linow, Bukit Kasih, Rumah Kayu Woloan dan berdoa/berkonsultasi rohani ke Susteran Karmel yang tidak jauh dari Seminari Menengah Kakaskasen.  Selepas jam kantor, aku bersama dengan dua teman kantor berinisiatif untuk pergi ke puncak Gunung Lokon di belakang rumahku. Si Silver, kijang krista, mengantar kami menuju ke tempat itu. Saat itu udara begitu cerah. Langit yang biasa diselimuti kabut sekarang tidak nampak. Karena cuaca begitu ramah, maka niat untuk pergi ke puncak gunung berubah menjadi sebuah penasaran yang terpendam dalam hati kami. Maklum baru pertama kali pergi ke puncak gunung.
Kami pakai si silver karena jalan menuju ke puncak Gunung Lokon tidak lagi jalan roda (roda adalah sebutan gerobak sapi oleh petani setempat) Kini, jalan itu sudah diperkeras dan lebar sehingga si silver tidak ngos-ngosan bergerak ke puncak. Rupanya pemkot, berniat membuka gunung lokon sebagai tujuan wisata di samping gunung Mahawu.
Aku melihat dari kaca spion si silver, debu berterbangan dan menyatu dengan sejuknya udara pegunungan. Di sepanjang jalan itu kami berpapasan dengan para petani yang sedang menanam sayuran seperti kembangkol, rica, buncis, sawi putih dll. Memang, aura pertanian di kaki gunung Lokon ini sangat terasa di hidung kami.
Akhirnya kami sampai di penghujung jalan. Mobil berhenti di situ dan kami keluar dari mobil untuk mengambil foto-foto pemandangan alam.
Sejauh mata memandang ke arah Timur Laut, tampak Gunung Klabat dengan gagahnya seakan berdiri bak bodyguard bagi pegunungan kecil di depannya. Sementara Gunung Mahawu berjajar rapi seperti gundukan punggung ular yang sedang menikmati makanannya.
Dari tempat kami berdiri, alam yang hijau sungguh mentetramkan hati kami. Kehijauan alamnya kelihatan terusik oleh rumah-rumah penduduk Tomohon. Betapa tidak. Atap-atap rumah mereka seakan keluar dari semak-semak hijau dan membuat warna kontras dalam lanskap haru.
Melihat itu semua kami berharap agar kelestarian alam dan lingkungan menjadi bagian dari hidup dan kehidupan kami. Udara yang segar dan bersih sudah kami hirup setiap hari sebagai bagian dari hidup kami.
Akhirnya, semoga lingkungan di sini tetap menjadi paru-paru dunia yang menproduksi udara sejuk dan segar bagi anak cucu bangsa ini kelak.  "Apa yang pertama kali akan diajarkan oleh seorang Ibu kepada anaknya? Pernahkah anda memperhatikan apa yang dibuat seorang Ibu ketika menuntun anaknya masuk ke Gereja?" Inilah pertanyaan yang disampaikan oleh Pst. Piet Timang Pr kepada umat saat mengawali kotbahnya pada Pesta Salib Suci di Kapel Bunda Karmel, Tomohon, Minggu 14 September 2008. "Tanda Salib" itulah jawabannya. Salib, pada jaman Yesus, adalah tanda penghinaan yang luar biasa bagi orang yang menerimanya. Ia dianggap oleh khalayak ramai sebagai orang yang terhina dan orang yang telah melakukan kesalahan berat (penjahat) sehingga menanggung akibatnya dengan memanggul salib. Rupanya, Yesus dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Pilatus. Dalam prosesnya, Yesus harus memanggul salib yang berat menuju ke Golgota. Dalam perjalanan-Nya, Yesus sungguh mengalami penderitaannya sebagai manusia. Dihina, dicerca, dicambuk, disoraki, dipaku di kayu salib dan akhirnya Yesus wafat. Jalan salib-Nya menjadi jalan yang penuh pengorbanan. Berjalan pada jalan yang tidak mengenakkan. Namun apa yang ditanggungkan pada Yesus diterimanya dalam ketaatan kepada Allah Bapa. Kegelapan dan kekosongan saat ajal akan berakhir diterimanya sebagai jalan untuk menuju ke surga. Salib adalah tanda kemenangan Yesus atas kuasa dosa dan maut. "Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma membuat tanda salib saat tampil sebagai juara bulutangkis di arena Olympiade, Barcelona beberapa tahun yang lalu. Tanda salib juga dibuat oleh para pemain sepakbola Itali, Brazil, dan Argentina ketika mau masuk lapangan dan menyarangkan bola ke gawang lawan" demikian pastor Piet Timang menegaskan kepada umat tentang apa arti salib bagi kita. Pst. Piet Timang Pr sebentar lagi akan ditahbiskan menjadi Uskup Banjarmasin, pada tanggal 6 Oktober 2008. Sesudah dari Karmel, Pastor yang calon Uskup ini melanjutkan perjalanannya (spiritual journey) ke Jalan Salib Suci Mahawu. Beliau membuat jalan salib kendati hujan deras mengguyur. Pada perhentian pertama, beliau membuat tanda salib untuk memulai doa sampai perhentian ke 14 di mana Yesus dimakamkan. Makam Yesus di JSSM memang kosong. Justru karena kosong dan gelap, serta harus masuk terowongan, peziarah diajak merenungkan apakah bisa masuk dalam kegelapan dan kekosongan diri? Yesus bangkit dalam kekosongan dan ketaatan total kepada Bapa. Setelah berdoa jalan salib, beliau berhenti untuk berdoa di depan Bunda Maria di gua Maria "Sanctissima" Mahawu. Lilin menyala dipasang untuk mengiringi doa penyerahan diri kepada Bunda Maria. Setibanya di rumah Retret Alamanda, sang guide berkomentar, "Mosinyur,..kapan balek ke tempat torang lagi? Di tempat ini, torang punya tampa retret....Monsinyur so boleh no pake kita pe tampa ini, for retret pribadi atau retret imam... Monsinyur Piet Timang Pr menjawab.."Yah yaa udaranya sangat segar ini. Lingkungannya sangat alami dan sepi.....pasti cocok untuk retreat..." Lha iya lah..... Kembali Rumah Retreat "Alamanda", digunakan sebagai tempat untuk Pertemuan Para Rektor/Pembina Seminari Tinggi, Seminari Menengah dan Tahun Rohani Regio IV yang mencakup area Manado, Ambon, Makasar dan Papua. Demikian P. Fecky Singal, Pr, rektor Seminati Xaverium Kakaskasen, Tomohon menyampaikannya kepada pengelola Rumah Retreat. Menurut data, Regio IV (MAMPU= Makasar,Ambon, Manado, Papua) memiliki 2 Seminari Tinggi, 2 Tahun Rohani dan 10 Seminari Menengah. Diperkirakan yang akan hadir dalam pertemuan tersebut berjumlah 25 peserta, sudah termasuk panitia setempat dari Keuskupan Manado, Komisi Seminari. Acara ini merupakan salah satu program dari Komisi Seminari KWI, ungkap Pastor Fecky. Untuk mempersiapkan acara tersebut, peserta sudah diberitahukan agar membawa jaket atau sweater agar tidak kedinginan saat berada di Rumah Retreat Alamanda yang memiliki ketinggiaan 1000 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara rata-rata 15 derajat Celsius. Rekreasi Bersama Di samping rapat, diskusi dan penyerapan materi yang dipandu oleh Bapak Sandiwan Suharto, dari Jakarta, para romo formatores juga mengadakan refreshing dengan mengunjungi tempat-tempat wisata dan edukasi. Selepas makan siang rombongan bergerak menuju ke Vihara Pagoda di Kakaskasen. Setelah itu menuju ke SMA Lokon St. Nikolaus, boarding school dan rintisan sekolah bertaraf International (SBI). Setiba di sekolah itu, rombongan disambut oleh Kepala Sekolah Bp. Max Imbang dan diantar keliling melihat-lihat kampus sekolah, antara lain perpustakaan, Asrama, Refter dan foto bersama. Dari sekolah itu, rombongan menuju ke Bukit Kasih, Kanonang. Yang menarik dari tempat wisata ini adalah air panas gunung yang dipakai untuk memasak milu (jagung), telur dan tempat ibadat lima agama besar Indonesia. Rombongan berhenti sejenak untuk mencicipi milu dan minuman. Kemudian perjalanan diteruskan menuju ke Danau Linow. Danau ini terkenal dengan danau berwarna karena air danau yang mengandung sulfur terkena sinar matahari. Konon danau ini sudah terkenal sejak jaman Jepang. Maka tak heran kalau banyak turis berdatangan ke tempat ini. Dari danau, rombongan menuju ke Woloan, tempat pembikinan rumah kayu khas Minahasa, yang dieksport ke luar negeri. Selesai melihat-lihat, lalu menuju ke Alamanda Retreat. "Di sini udaranya segar. Pemandangannya indah dan hijau. Apalagi kalau sempat ke Jalan Salib di JSSM juga mempesona karena adegan per adegan di setiap perhentian mengekspresikan betapa berat penderitaan yang dialami oleh Tuhan kita Yesus Kristus." ungkap Pastor Rudyanto SJ, Rektor Seminari Wacana Bhakti, Jakarta. "Saya kagum dengan pemrakarsanya. Beliau sungguh mempunyai ketulusan hati untuk membangun demi anak cucu bangsa Indonesia Timur dengan menyediakan fasilitas sekolah, tempat ziarah, tempat wisata dan kepedulian akan lingkungan." cetus Bapak Sandiwan, pimpinan perusahaan Majalah Hidup, Jakarta. Ibadat Jalan Salib & Misa PenutupanPara Romo mengadakan ibadat jalan salib pada pagi hari (4/9) pukul 05.30 saat matahari keluar dari balik gunung Mahawu. Siang hari para romo akan mengadakan misa penutupan di Seminari Menengah Xaverius, Kakaskasen bersama dengan para seminaris. Selamat jalan para formatores semoga apa yang sudah dibicarakan, dilihat, dialami dan dirasakan akan membawa hasil yang maksimal bagi para seminaris. (***)  Tomohon - Seperti diketahui bahwa pada tanggal 27 - 29 Juni 2008 akan dilangsungkan Kovenda V Kharismatik Propinsi Gerejawi Sulawesi dan Maluku, di kompleks SMA Lokon St. Nikolaus, Tomohon. Perhelatan yang cukup besar ini mengusung tema "Sepikir dan Seperasaan dengan Gereja". Peserta akan diajak menggagas tema aktual yaitu "Kamu adalah kawan sekerja Allah di ladang-Nya" (1 Kor 3:9). Menilik rangkaian acara yang sudah disusun oleh panitia, penjabaran tema tersebut dimulai dari sebuah pertanyaan refleksif yang menggelitik setiap peserta. Sebagai umat yang setiap hari bergumul dalam lingkup paroki dan keuskupan, apakah peranan saya sebagai anggota PDKK di dalam gereja/paroki? Uniknya, yang bertanya dan menyampaikan refleksi adalah para Gembala Umat yaitu Bapak Uskup sendiri. Apapun jawabannya itulah dinamika kehidupan beriman yang ada dan terjadi saat ini. Semangat "paguyuban" para rasul pada gereja perdana tentu menjadi cermin bagi angota PDKK. Atau ada yang lain? Peran dan fungsi setiap anggota dalam konteks hidup menggereja tentu bukan tanpa modal sedikitpun. Spiritualitas Kharismatik Katolik adalah salah satu jawabannya. Semangat atau roh apa dan bagaimana pengejawantahannya dalam hidup dan kehidupan sehari-hari menjadi pijakan rentan apabila dibiarkan liar tanpa arah pada Kristus sendiri. Untuk itu, "Historis Theologis Pentacostalisme" akan disampaikan untuk menggugah semangat berkharismatik di tengah globalisasi saat ini. Kahadiran PDKK memang dirasakan sangat fenomenal di kalangan umat Paroki. Ada kultur berbeda antara umat di paroki kota dan di luar kota ketika "pujian dan penyembahan" dipentaskan dalam kemasan Kebangunan Rohani Katolik (KRK). Dengan tidak bermaksud membuat dikotomi, antusiasme umat memang berbeda satu sama lain jika ditilik dari kehadirannya. Indikasi ini tentu menjadi bahan pembicaraan dalam kepemimpinan rohani dan karunia Sabda Pengetahuan yang akan diolh pada hari kedua. Bagaimana dengan peranan kaum muda dalam peristiwa besar ini. Nampaknya partisipasi kaum muda atau muda-mudi mendapat tempat yang cukup banyak. Di antaranya pada saat kebangunan rohani dan acara khusus untuk mereka. Perhelatan besar ini sekali lagi untuk menjawab "Sentire Cum Ecclecia". Semoga pada akhir acara semua yang hadir menyadari dan mengejawantahkan "Kamu adalah kawan sekerja Allah di ladang-Nya"...... Berikut ini hasil liputan Wisata Rohani kelompok WKRI Pamanukan Plus yang dipimpin oleh Pastor Franki Pitoy, PRManado - Bunaken - MinahasaHari pertama: setibanya di bandara Sam Ratulangi, Manado pukul 12.30 Wita, peserta yang berjumlah 17 orang langsung menuju ke rumah makan. Setelah makan, rombongan bergerak ke kota Pelabuhan Bitung untuk melihat Tarcius, kera kecil yang suka makan belalang. Binatang kecil ini dilindungi di Taman Nasional Tangkoko. Peserta kemudian makan malam di kota Manado sebelum check-in ke Hotel. Sesudah makan malam, peserta diberi kesempatan untuk jalan-jalan di boulevard Manado.
Hari Kedua: program hari kedua adalah melihat keindahan taman laut Bunaken yang sangat terkenal. Dengan menggunakan kapal "glass bottom boat" peserta bisa melihat biota laut yang sangat indah. Peserta juga bisa snorkeling yaitu berenang dilaut untuk melihat taman laut. Makan siang disiapkan di pulau Manado. Setelah seharian di pulau Bunaken, peserta kembali ke hotel untuk istirahat.
Hari Ketiga: Setelah check-out dari hotel di Manado, peserta diajak untuk berziarah dan berdoa di jalan salib suci mahawu di kota Tomohon. Sesampainya di JSSM, peserta masuk melalui pintu jalan salib. "via dolorosa" Yesus dilakukan dengan mengikuti patung-patung diorama dari perhentian pertama hingga empat belas. Kendati jalan menanjak, peserta akhirnya bisa sampai ke Gua Maria untuk berdoa dan menyampaikan ujub-ujub.
Dari JSSM, peserta bergerak ke Bukit Temboan, Rurukan dan terus ke Danau Tondano. Perjalanan diteruskan menuju ke Bukit Kasih dan Kawangkoan untuk merasakan ba'pao dan kacang khas minahasa. Sesudah itu peserta diajak ke Danau Linau, dana berwarna yang sangat menakjubkan. Arah perjalanan berikut adalah "chek-in" di penginapan Wisma YPL untuk mandi. Sekitar pukul 18.00, peserta bergerak ke Kelong Garden untuk Misa dan Makan Malam (minahasa food) serta Malam Gembira diiringi musik bambu khas Minahasa.
Hari ke Empat: setelah breakfast, peserta check out dan siap-siap menuju ke Bandara, Dalam perjalanan menuju ke airport, peserta diajak ke Desa Woloan, tempat pembuatan rumah kayu, dan mampir ke Karmel, Seminari Menengah, Seminari Tinggi Pineleng dan Makan Siang di Manado. Lalu dengan pesawat menuju ke Jakarta. (take off pkl 12.00).
Peserta merasa senang karena selain wisata juga bisa rekoleksi dan sharing kehidupan. History JSSM was born from sincerity. By the early 2003, Mrs. Mary Wewengkang and the Korompis-Wewengkang Families imagined a place where people could devote and pray in a quiet, silent and natural place. This place was then dedicated as an expression of gratitude to the Lord for His blessings to the families, especially for 60th birthday of Mrs. Mary, three years later. The 39 ha of family's private property in the foot of Mahawu's mountain was chosen for the prayers location. It is between 820 - 1021 meters above the sea level and it has the natural forest with a hilly land contour. The air temperature in general is 22 degrees Celsius. From the top of its hill we can view Tomohon city, Soputan Mountain, Lokon Mountain, the hills of Kinilow-Tinoor, Amurang Beach in the west side and the Manado Tua Mountain in the north. In September 2003 JSSM was built with a”back to nature spirit” and”nature conservation”. On September 18th 2005 Pastor Johanis Ohoitimur, MSC led the laying cornerstone ceremony of the JSSM chapel. Attending the ceremony were the families of Korompis-Wewengkang, Lokon Education Foundation (YPL) and the SENIOR HIGH SCHOOL of St. Nikolaus Lokon as well as other members of the community. The blessing and opening ceremony of the JSSM was carried out on September 14th 2006, at the Holly Cross celebration day and at the same time it was the 60th birthday of Ms Mary Wewengkang. The ceremony and Eucharist of JSSM were led by Mgr. Josef Suwatan MSC, the bishop of Manado and was accompanied by Mgr. John Liku Ada Pr, Archbishop of Makasar and Mgr. PC Mandagi MSC, bishop of Ambon. Also attending the ceremony were the families of Korompis-Wewengkang, Governor of North Sulawesi, Drs. SH Sarundajang and his wife, Major of Tomohon, Jefferson S.M. Rumayar SE, other Muspida elements, the Municipal Government, Pastor Raymond Wea from Fullerton, USA, priests, brothers, nuns, frater, seminarian and Catholic community from various place
For the detailed information, please read the book “Tafsir Makna Jalan Salib Suci” (Kajian atas Jalan Salib Suci Mahawu), or click www.mahawupilgrim.com Location of JSSM: The JSSM is located in the Kakaskasen II village, North Tomohon District, City of Tomohon, North Sulawesi Province. It is very easy to go to JSSM. If you go from Manado, as soon as you arrive at Kinilow bridge, take the left turn and take the East Ring Road. Not less than 2 km or 15 minutes from the bridge, you will soon arrive at the location. If you go from Tondano, take Matani intersection to the left, heading to Paslaten, then through the city garden, and then turn left to take the East Tomohon Ring Road. The distance is approximately 8 km. TOMOHON-Jalan Salib Suci Mahawu (JSSM) kini menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi oleh umat kristiani. Lokasinya ada di kawasan hutan di kaki Gunung Mahawu. Berada di sebelah timur kota Tomohon, Sulawesi Utara. Pemandangan alam di sekitar tempat ziarah JSSM ini sungguh eksotik. Suhu udaranya berkisar 15-20 derajat Celcius menyegarkan pori-pori kulit anda. Nah, begitu kaki anda menapak di perhentian pertama, anda akan merasakan suasana alam hutan Mahawu. Patung-patung setinggi manusia yang terbuat dari lempeng-lempeng tembaga bercampur perunggu di pasang di setiap perhentian jalan salib. Menyaksikan bagaimana pematung membuat ”pengkristalan penderitaan kemanusiaan Yesus” pada setiap patung-Nya membuat hati anda akan terharu.
Misalnya, Ketika Yesus tergeletak tak berdaya oleh beratnya kayu salib, tangan Simon Kirene (orang asing di luar komunitas Yesus) menggapai tangan Yesus sambil memanggul salibNya. Saling tolong-menolong antar sesama tidak bisa dibatasi oleh siapa yang menolong.
Yesus jatuh dan batu besar menopang badan lunglai Yesus. Kendati berat memikul salib, Yesus merunduk menatap hati Bunda-Nya dengan semangatnya sebagai Putra-Nya. Begitu pula saat Ia berjumpa dengan Veronika. Tampak, badan Yesus terbaring di atas kayu salib saat serdadu menancapkan paku pada tangan dan kakiNya. Mendekati makam Yesus, anda melewati akuistik Taman Pieta tempat adegan Bunda Maria memangku jenasah Yesus. Selanjutnya, langkah anda akan terhenti di lorong pintu masuk makam Yesus yang gelap. Siapkah anda diam sejenak untuk merenungkan kegelapan dan kekosongan di makam Yesus ini? Makam Yesus kosong dan Ia sudah bangkit. Keluar dari makam, anda akan melewati sebuah jembatan di atas kolam untuk sampai ke Gua Maria ”Sanctissima” Mahawu. Sebuah jembatan yang menjembatani antara kebangkitan dan realitas hidup manusia. Di depan goa kita mohon agar dengan perantaraan Bunda Maria doa-doa kita terkabul. Jalan Salib Suci Mahawu (JSSM) diberkati oleh Mgr. Josef Suwatan MSC, Uskup Manado pada Hari Raya Salib Suci, 14 September 2006. Hadir dalam acara itu Gubenur Sulut, Drs. Sinyo Sarundayang yang sekaligus meresmikan tempat doa dan ziarah ini. JSSM dilengkapi dengan amphitheatre yang mampu menampung 1000 orang. Di sebelah amphitheatre, dibangun Kapel dengan view menghadap Gunung Lokon. Jogging trekking sepanjang 500 meter menembus hutan dibuat dari Kapel menuju ke halaman Alamanda (rumah) Retret.
Ada 6 unit rumah panggung dibangun di komplek rumah retret yang sangat ramah lingkungan. Dua unit dikhususkan untuk menginap dengan daya tampung 75 orang. Unit-unit rumah lainnya digunakan untuk ruang kantor, ruang makan dan ruang pertemuan, serta ruang pembimbing. Luas kawasan tempat ziarah JSSM kurang lebih 50 ha milik keluarga Korompis Wewengkang. Di samping sebagai tempat ziarah, kawasan ini disiapkan untuk Kebun Raya (botanical garden). Wujud nyata dari kepedulian untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup dan konservasi alam di Sulawesi Utara, khususnya kawasan hutan Tomohon. Flora terestrial endemic Sulawesi seperti Pakoba, Cempaka Putih, Gaharu Minasae, Namu-namu, Lausip, Beringin Putih, Tome-tome, dll akan anda saksikan di tempat ini. Ke lokasi JSSM dan Kebun Raya ini tidak sulit. Dari Manado, cukup anda tempuh dengan kendaraan dalam waktu 45 menit dengan jarak 25 kilometer. Dari jembatan Kinilow, silahkan Anda berbelok ke kiri mengikuti Jalan Lingkar Timur kota Tomohon. Dari jembatan ke lokasi JSSM atau Kebun raya cuma 2 km atau 10 menit perjalanan. (***)
| |